Ulap-Ulap Rarajahan Sruti Aksra Suci

  https://helaibuku.blogspot.com/ Om Swastystu Umat sedharma yang berbahagia. Pada kesempatan ini helaibuku petikkan beberapa contoh Ulap-ulap atau Rarajahan Sruti Aksara suci sebagai berikut: Dipetik dari buku Ulap-Ulap Sruti Aksara Suci karipta olih Jro Mangku Pulasari. Agar lebih jelasnya sahabat helaibuku bisa membeli bukunya untuk melengkapi koleksi perpustakaannya. Agar lebih mudah mengenali,sampul bukunya seperti di bawah ini:

Banten Hari Raya Galungan

helaibuku.blogspot.com Hari Raya Galungan adalah hari raya besar bagi Umat Hindu di Bali. Hari Raya Galungan bermakna sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma (kemenangan kebenaran melawan ketidak benaran atau kepalsuan). Ada banyak rangkaian upacara yang harus dilalui dalam perayaan hari raya ini. Namun Helai Buku kali ini khusus petikkan bagi pembaca tentang Banten Hari Raya Galungan atau upakara yang digunakan dalam rangkaian Hari Raya Galungan. Berikut petikannya:

Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Wariga (Saniscara Kliwon Wuku Wariga )

Rangkaian upacara yang pertama adalah Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Hari Raya ini dilaksanakan 25 hari (selae dina) sebelum Galungan. Upakara (upacara) ditujukan kepada sang hyang Sangkara (Ida Sang Siwa Tunggal) sebab beliau  Dewanya  tumbuh-tumbuhan. Dengan menghaturkan banten atau sesaji kepada beliau maka tumbuh-tumbuhan akan tumbuh subur dan menghasilkan buah yang banyak serta manis sehingga bermanfaat bagi kehidupan.

Adapun Bebantenannya : tumpeng agung, maulam, guling itik guling bawi) menurut keadaan, sesayut pengambian, peras penyeneng, pengiring, miwah saruntutannya.

Tata caranya:

Pohon yang  relative besar, umumnya pohon yang menghasilkan buah  diberi kain, sandiga/ceniga, gantung-gantungan, ketipat gatep dan ketipat taluh (ala Karangasem), Tujuan memilih pohon yang berbuah  karena pada saat itu kita memohon  kepada Dewa Sangkara agar pohon tersebut menghasilkan buah yang lebat atau banyak dan manis sebagai sarana upacara nanti pada Hari Raya Galungan. Akan tetapi Tidak menutup kemungkinan berlaku juga untuk tanaman yang tidak menghasilkan buah misalnya tanaman yang menghasilkan kayu,. karena semua tumbuhan tersebut bermanfaat bagi kehidupan.

Sebelum menggantung ketipat taluh dan ketipat gatep pohon tersebut di lukai atau ditebas batangnya dengan benda tajam semacam belakas atau pisau besar. Pohon itu dilukai sebanyak tiga tebasan Sesapanya (tiap daerah di Bali agak berbeda) kaki-kaki idadong kija? I dadong gelem ngetor,tiyang ngatang buin selae dina Galungan,mabuah pang nged,nged,nged. Lalu ketipat taluh dan ketipat gatep itu dikaitkan atau digantung di tempat luka atau bekas tebasan di bataang pohon tersebut.

Pada saat bertepatan dengan hari tumpek wariga ini, tidak dibenarkan memetik buah ataupun menebang pohon,kecuali untuk kepentingan yajna.

Ada perbedaan penyebutan tentang hari raya ini, di beberapa daerah di Bali yaitu:

  1. Tumpek Wariga
  2. Tumpek  Pengatag
  3. Tumpek  Pengarah
  4. Tumpek Penguduh 
  5. Tumpek Bubuh

Walaupun penyebutannya berbeda tetapi maknanya sama.

Upakara Hari Raya Galungan

Upacara ini bertujuan untuk memohon kepada  Sang Hyang Widi Wasa, kepada  betara-betari, serta para leluhur  agar dianugrahi keselamatan, kesehatan lahir dan bhatin sertaa umur panjang . Disamping itu juga untuk menyampaikan rasa terima kasih atas limpahan  kebahagiaan dan kesejahteraan  berupa kemurahan sandang,pangan dan kemurahan lainnya.

Adapun Upakaranya :

A.Di Palinggih utama : tumpeng penyajan, tumpeng wewakiulan (jerimpen dewa), ajuman, canang meraka, pesucian, canang burat wangi, juga seruntutannya.

B. Di Palinggih Alit :

Ulun carik atau Ulun ladang, Tugu dan sebagainya, bebantenannya tumpeng penyajan, ajuman canang meraka, pasucian, dan canang genten.

C. Kepada para gumatap-gumitip (serangga), seperti rayap, semut,serta  alat-alat (perabot perlengkapan sehari-hari) yang digunakan di sawah, di rumah, bantennya : tumpeng penyajan ring cananggenten.

D. Di tempat pebaktiannya (di pemaruman) : sesayut pengambian, peras, penyeneng, dapetan, jerimpen gebogan pajengan, pesucian, miwah seruntutan ipun maweweh daging bawi (lawar sare seraan).

Ucapan Mantra Galungan (japa ngaturang banten) 

Om pasang tabe pakulun sang hyang Kadali puspa, ulun angaturaken  sarining sang hyang Siwa raditya, sarinng sang Kadali puspa, sarining ngamanah, angastuti betara Siwa Tata Gata muang batare Darma, muang betara Budha, sarwa dewa-dewi sadaya, kajenengan dining sang hyang teri parusa awas sajining telung warne kabeh, winugerahan pun naning janma, manadi sarwa tinadur murah kang sarwa tinuku dirga hayu restu astu ya namah.

Di tempat pengayatan (linggih perbaktiane) di depannya tempatkan banten pengadangan (pekoleman) banten seperti itu masing-masing tiga tanding (peras ajuman canang lenge wangi burat wangi).

Ucapan japa : Pakulun betara sarining galunsan, manusanira kina weruhaken sarining Galungan, ingsun weruh sari ning Galungan, angisep sari rahina wengi, angisep sari ning buara kabeh, dadi ya ngulun Bujangga lewih  akadang ratu suka sugih sariran ningulun, kadep anak-anak aputu buyut, tumus tekeng anak putu buyut ningulun sang hyang Tiyodosa saksi anyaksi ngulun.

Banten di Penjor

Dihaturkan kehadapan  Ida betara Tolangkir yang berstana di Gunung Agung, ajuman putih kuning dan seruntutannya, serta tadah pawira. Pelaksanaan menghaturkan banten sebelum tengah hari. (sebelum jam dua belas siang)

Bila menancakan penjor, hendaknya sore hari pada Penampahan Galungan , isi penjornya adalah berupa hasil bumi  serta olahannya seperti : jajan, satuh, dodol, tebu, pisang, tape, pala bungkah palagantung (hasil sawah-ladang), uang logam sebelas keping kalau ada uang kepeng sebelas keping.

Perlengkapan penjor, di ujung penjor berisi sampian penjor, lengkaap dengan palawa, porosan bunga, wastra selembar putih, kuning, selem, caniga-lemak gantung-gantungan.

Perlu diingat, penjor  dicabut pada hari Budha-Keliwon pegat uwakan (Buda Keliwon Uku Paang).

Upakara Tetandingan Banten

Tumpeng penyajian : dasarnya ceper, berisi tumpeng alit dua biji, jaja raka-raka, buah-buahan sampian tangkih.

Tumpeng wewakulan (jerimpen dewa) dasarnya wakul alit, berisi tumpeng (sebiji, raka-raka, buah-buahan, jajan, serta sampian jait).

Banten Pekolem (pengadangan) 

Dasarnya taledan berisi ceper alit dua biji, berisi nasi serta lauk-pauknya.

Di taledan tersebut berisi tumpeng  dua biji, lauk-pauk (kacang saur) tatakannya tangkih (atau ceper alit), jajan, raka buah-buahan, tebu sampian, kepet-kepetan (sampian soda) di canang burat wangi.

Sesayut :

Dasarnya kulit sesayut, berisi nasi/penek, meruntutan jajan serba rupa (magenepan), raka-raka, buah-buahan, tebu sampian naga sari serta lauk-pauk.

Pengambeyan :

Dasarnya teladan, berisi tumpeng dua biji, tulung pengambean, jajan raka-raka magenepan, lauk-pauk, sampian tangga, bila tidak bisa membuat tipatnya bisa menggunakan tulung.

Dapetan :

Dasarnya jejaitan yang sudah diukur menjadi tiga petak (tiga bagian), di petak tersebut berisi wija,, tepung tawar, di nasi segau (nasi madukan abu dapur) diisi porosan, bunga, tetebus  tempatkan di puncak.

Jerimpen :

Dasarnya keranjang jerimpen yang panjang yang berukuran 1,20m, dasarnya wakul di tengahnya berisi  beras base tampel, bawang putih, serta jinah (uang) dipucuk sampian jerimpen, dibangkiang /tengah-tengah (pengawak keranjangnya maiter (dikitari) dengan jaja npekayu.

Pajegan :

Dasarnya : wanci di atas wancinya diisi taledan yang pantes diwancinya, daging pangkonan yang besar juga nasi berlauk-pauk 9 kacang saur) serta jaja raka-raka, buah-buahan, ayam dipanggang.

Pengertian :

Biasanya banten pengambeyan, berisi tumpeng pengiring  bila sudah  tumpeng pangiring  yang digunakan tidak boleh menggunakan  tulung dan tipat.

Upakara  Untuk Hari Raya Kuningan :

Yang dihaturkan pada palinggih utama ; bantenya, tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi.

Di palinggih yang Alit, nasi selangi, canang meraka, pesucian, ring canang burat wangi.

Di Paruman : Pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning lauk-lauk, serta  daging bebek.

Di palinggih-palinggih masing-masing bagungan, rumah, dihiasi gantungan-gantungan, tamian (berbentuk bunder), kolem (berbentuk segi empat) merapat.

Buat pakurenan (keluarga) :

Dapetan sawetannya  berisi sesayut pascita luwih, nasi kuning daging bebek  boleh juga ayam.

Daging tebiganne : berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur  dadar, taur dagingin berbentuk wayang-wayangan meserana gendang (timun).

Tebog  dasarnya  taledan yang berisi  tipat nasi dua biji, di sampiannya berbentuk kepet-kepetan.

Bila tidak bisa membuat tebog bisa  diganti dengan  piring.

Tetandingan, Sesayut Perayascita Luwih :

Dasarnya kulit sesayut, berisi  tulung agung (di bawahnya  tamas, di atasnya berbentuk ciili, di dalamnya berisi nasi, lauk-pauk, disusun dengan tumpeng ditancapi bunga tanjung putih, iderin dengan penek alit-alit sebelas buah, tulung alit sebelas, peras alit,pasucian, panyeneng, sebelas buah tipat kukur, tipat gelatik tulung alot sebelas, kuangen sebelas pasucian, penyeneng, bungkak kelapa gading, lis bebuu, sampian naga sari, canang burat wangi, berisi jajan magenepan (aneka rupa) raka-raka buah-buahan.

Banten ini juga bisa digunakan untuk  piyodalan, Dewa yadnya, Resi yadnya miwah  manusa yadnya.

Buda Kliwon Pegat Wakan 

Bermakna akhir dari rangkaian Hari Raya Galungan (berakhirnya prosesi Galungan) , jugaa bermakna maresihin (membersihkan) segala kekotoran juga dari sampah Galungan dan Kuningan seperti  lemak/lamak, saniga/ceniga, gantungan; tamiang, kalem, penjor, dan sebagainya.

Sebelum melakukan pembersihan atau menyapu: sebaiknya melakukan upacara persembahyangan terlebih dahulu

Upakaranya sebagai berikut:

Di Pemerajan Kemulan, juga di Padma, serta pelinggih lainnya bantene, ajuman pasucian, canang burat wangi dengan  saruntutannya,

Di Palinggih Alit, canang burat wangi.

Di penjor Sebelum Mencabutnya :

Menghaturkan banten, tumpeng mapucak  manik, (tumpeng berpuncak telur ayam rebus).

Dilengkapi dengan jajan magenepan (aneka rupa)  raka-raka buah-buahan sampian jait, setelah selesai  melakukan proses seperti tersebut di atas, penjorpun boleh dicabut.

Banten upakara nunjel lalu (mekembar sampah upakara) ajuman pasucian, tadah pawitra.

Tata caranya:

Seluruh sampah dikumpulkan berdasarkan tempatnya:

  • a.Lulune (sampah) dari sanggah (dipemerajan) dikumpulkan di natah (halaman) merajane/sanggah bakar di merajan /sanggah pedem/tanam abunya di tengah natar merajan/sanggah.
  • b. Luune (sampah) di luar sanggah (di bale dan di penjor, bakar di tengah  halaman rumah , pendem /tanam di tengah halaman rumah.
  • c. Abunya masukan ke dalam bungkak kelapa gading, diisi sebuah kuangen , lalu pendem/tanam.

Maknaya sebagai  simbul untuk menguatkan dan memperpanjang jiwa raga.

Perlu diketahui bahwa dari Wuku  Dungulan sampai pegat wakan disebut sebagai uncal-balung. Pada saat ini tidak diperkenankan melaksanakan upacara juga pernikahan.


Dipetik dari,Wikarman Singgih Inyoman,Sanggah Kamulan Fungsi dan pengertiannya

Komentar